Viral    Unik    Olahraga    Politik    Ekonomi    SelebNews    Pasang Iklan   
Home » » Indung Telornya Diangkat Dokter, Klien Hotman Paris Mengaku Ditawari Uang Damai Rp 500 Juta

Indung Telornya Diangkat Dokter, Klien Hotman Paris Mengaku Ditawari Uang Damai Rp 500 Juta

Posted by Cinta Berita on Rabu, 11 Juli 2018

foto : hotman paris saat di wawancarai


Meski mengakui ada kesalahan, Rumah Sakit Grha Kedoya Jakarta Barat melimpahkan kekeliruan tersebut kepada dokter Hardi Susanto mengenai dugaan malapraktik pada seorang pasien yang bernama Selvy. AGEN DOMINO

Sebelum mengadu dan menunjuk Hotman Paris Hutapea sebagai kuasa hukumnya, Selvy udah lebih dari satu kali bergeser pengacara untuk mengatasi dugaan malapraktik yang dialaminya pada th. 2015.


Demikian pula bersama dengan terduga malapraktik dokter Hardi Susanto yang udah berikan kuasa kepada pengacaranya.

Upaya hukum yang ditempuh kedua belah pihak tak kunjung menemui titik temu sampai akhirnya Selvy mempercayakan persoalan tersebut kepada pengacara handal Hotman Paris Hutapea.


"Terduga pelaku bahkan dulu menawarkan sejumlah uang tukar rugi kepada korban, di dalam perihal ini Selvy. Jumlah uang yang di tawarkan tersebut cuma Rp 500 juta," tutur Hotman Paris di dalam konferensi pers di RS Grha Kedoya, Selasa (10/7/2018).

Keterangan itu dibenarkan oleh Selvy. Menurutnya kuantitas uang tukar rugi yang di tawarkan oleh pengacara dokter Hardi Susanto tidak sebanding bersama dengan kerugian immateriil yang dialaminya.


Alasannya, akibat kelakuan sang dokter yang melenyapkan dua indung telurnya tanpa izin dan pemberitahuan sebelumnya, jaman depan Selvy mesti hancur.

Ia tidak bisa kembali ikuti olahraga Muaythai yang digemarinya, tidak bisa memiliki keturunan, monopause dini serta harapan kedua orang tuanya untuk menimang cucu berasal dari Selvy mesti pupus di tangan dokter Hardi Susanto.


"Waktu anda kembali dioperasi saya buka dan saya dilema. Jadi saya ambil kedua indung telur kamu. Kamu nggak bisa memiliki anak kembali dan anda nggak bisa Muaythai kembali namun anda cuma bisa yoga gara-gara muaythai itu fisiknya keras dan anda dapat monopause," ujar Selvy menirukan perkataan dokter Hardi Susanto.

Mendengar jawaban korban, Hotman Paris terlihat geram. Sebab, perkataan kejam layaknya itu benar-benar tidak pantas diucapkan oleh seorang dokter kepada pasiennya.

Apalagi dokter tersebut mengambil alih dan melenyapkan dua indung telur korban tanpa pemberitahuan dan izin khususnya dahulu berasal dari pasiennya.

"Karena kita udah berbicara bersama dengan dokter, indung telur itu bisa diambil jikalau udah tersedia biopsi dan udah tersedia tanda-tanda kanker," ungkap Hotman Paris Hutapeai.

"Ternyata sama sekali itu tidak tersedia gara-gara panduan berasal dari dokter internist cuma kista dan berasal dari faktor kala pun itu belum tersedia penelitian pada apakah tersedia kanker atau tidak, gara-gara tanggal 20 April malam dia ke sini tanggal 21 April pagi udah dioperasi. Jadi tidak tersedia kala untuk membuktikan bahwa udah dilakukan kontrol kanker," lanjut Hotman Paris Hutapea. DOMINO99

Sekiranya di dalam suasana darurat samasekali bahwa mesti diambil organ tubuh seorang pasien, dokter bisa mengambil alih tindakan jikalau pilihannya adalah hidup atau mati.

"Tapi ini kan kista nunggu 6 bulan pun tidak membahayakan. Karena kala itu dia sesungguhnya tidak di dalam suasana emergency. Jadi tidak tersedia alasan untuk mengambil alih dua indung telurnya," kata Hotman Paris.

Setelah ada pertemuan berasal dari kedua belah pihak, RS Grha Kedoya mengakui bahwa udah berlangsung kekeliruan berbentuk pengambilan dua indung telur pasien tanpa izin dan pemberitahuan khususnya dahulu.

Namun di dalam pertemuan itu berlangsung perbincangan sengit gara-gara manajemen RS Grha Kedoya bersikukuh bahwa kekeliruan yang dilakukan oleh dokter bukan menjadi tanggung jawab pihak rumah sakit.

Menurut manajemen perihal itu udah menjadi Standar Operasional dan Prosedur (SOP) RS Grha Kedoya. Pihaknya juga udah menindak dokter Hardi Susanto bersama dengan langkah men-skornya.

"Untuk mengimbuhkan informasi apakah itu juga ke di dalam substansi medis kita tidak bisa mengimbuhkan suatu informasi gara-gara kita adalah manajemen dimana secara profesional dapat diatasi sendiri oleh sistem di ranah hukum dan di Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI)," kata Wakil Direktur RS Grha Kedoya, Hiskia Satrio Cahyadi.

Hotman Paris lantas menanggapi kembali pengakuan Wakil Direktur RS Grha Kedoya tersebut. Menurutnya, jawaban layaknya itu merupakan bentuk pembelaan berasal dari manajemen rumah sakit.

RS Grha Kedoya seolah-olah melimpahkan kekeliruan seutuhnya kepada dokter Hardi Susanto yang melenyapkan dua indung telur pasiennya tanpa izin dan pemberitahuan.

Dikatakan Hotman Paris, Pasal 1367 Kitab Undang-undang Hukum (KUH) Perdata menyatakan seseorang tidak cuma bertanggung jawab atas kelakuan dirinya sendiri namun juga atas kelakuan orang yang bekerja dengannya. Apalagi, seluruh uang yang dibayarkan pasien untuk biaya operasi masuk ke rekening rumah sakit.

Agar manajemen RS Grha Kedoya makin paham, Hotman Paris mengambil alih umpama berasal dari dirinya dan dan sopirnya. Tidak pikirkan apakah sopirnya pekerja kontrak atau pekerja tetap, Hotman Paris selamanya mesti ikut bertanggungjawab jikalau berlangsung suatu persoalan yang diperbuat oleh sopirnya.

"Jadi kesimpulannya tadi tidak tersedia titik temu. Pihak rumah sakit mengakui bahwa sesungguhnya tersedia kekeliruan di pihak dokter. Cuma dia bilang SOP rumah sakit udah jelas, seolah-olah menyalahkan dokternya. Kesimpulan kami, kita dapat lari ke ranah gugatan perdata. Kami dapat gugat rumah sakit tersebut dokternya di dalam kala dekat untuk minta keadilan ke pengadilan," ucap Hotman Paris.

Dikatakannya, gugatan perdata di pengadilan tidak tergantung pada hasil pembuktian MKDKI atau Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Pengacara tenar Hotman Paris Hutapea bersama dengan korban dugaan malapraktik mengunjungi Rumah Sakit (RS) Grha Kedoya Jakarta Barat, Selasa (10/7/2018).

Hotman Paris tiba di RS Grha Kedoya kira-kira pukul 14.00 WIB menggunakan mobil Bentley warna hitam miliknya. Ia, timnya dan terduga korban malapraktik yang bernama Selvy (28) serta rekan korban, Jules, lantas menuju ke lantai lima untuk bertemu manajemen RS Grha Kedoya.

Hotman Paris berkunjung bersama dengan tujuan untuk menanyakan kepada manajemen RS Grha Kedoya mengenai dugaan malapraktik yang dilakukan dokter Hardi Susanto pada Selvy.

Kejadian bermula pada Senin (20/4/2015) saat Selvy usai melakukan olahraga Muaythai. Korban yang merasakan tersedia problem di dalam tubuhnya khususnya di bagian perut lantas mengambil keputusan untuk berkunjung ke RS Grha Kedoya.

Setelah check in dan bertemu dokter internist kira-kira pukul 02.00 WIB Selasa (21/4/2015), dokter menganjurkan agar Selvy melakukan Ultrasonografi (USG) untuk mengetahui penyebab problem pada perut korban.

Hasil USG membuktikan ada indikasi penyakit kista. Dokter internist itu selanjutnya menganjurkan Selvy ke bagian kandungan untuk bertemu dokter Hardi Susanto.

Selasa pagi dokter terduga malapraktik itu melakukan operasi kista pada korban. Empat hari kemudian, sang dokter memberitahu bahwa ia udah mengambil alih dua indung telur Selvy bersama dengan alasan berpotensi kanker.

Padahal, dokter Hardi Susanto dan pihak RS Grha Kedoya belum dulu melakukan kontrol laboratorium pada Selvy. Sehingga potensi kanker yang dikatakan dokter tersebut cuma berdasarkan pada perkiraan saja.

Awalnya, seorang wanita muda inisial S mengadu kepada pengacara Kondang Hotman Paris Hutapea dan mengaku menjadi korban malapraktik.

Disebutkannya, kala menjalani operasi penyakit kista, S kehilangan dua Indung telurnya gara-gara diduga dibuang tanpa izin oleh sang dokter. Akibatnya, jaman depan S hancur dan tidak bisa mengandung serta melahirkan anak.

Hotman Paris yang terima pengaduan S di Kedai Kopi Johny Kelapa Gading Jakarta Utara, berjanji dapat mengimbuhkan perlindungan hukum.

Dalam video yang diunggah account Instagram @hotmanparisofficial pada Minggu (1/7/2018), suami Agustianne Marbun itu dapat segera melayangkan somasi kepada pihak rumah sakit.

Berdasarkan keterangan sumber yang bisa dipercaya, oknum dokter yang diduga melakukan malapraktik bekerja di Rumah Sakit Grha Kedoya, Jalan Panjang 26, Kedoya, Jakarta Barat.

"Oknum dokter yang diduga pelaku malapraktik berinisial HS, kabarnya udah dipecat. Sedangkan korbannya wanita inisial S," ujar sumber yang namanya tidak bersedia diekspos kepada Warta Kota, Senin (2/7/2018).

Kepala bagian humas yang juga marketing Manager, Deden Meldy, berjanji dapat berkoordinasi khususnya dahulu bersama dengan pejabat manajemen. Namun saat dihubungi kembali Deden Meldy tidak merespon.

"Nanti saya koordinasikan dulu bersama dengan manajemen," katanya, Selasa (3/7/2018).

Kemudian seorang pegawai bagian kandungan inisial I kepada Warta Kota menyongsong oknum dokter inisial h s yang diduga melakukan malapraktik udah tidak bekerja kembali di Rumah Sakit Grha Kedoya sejak akhir 2017.

"Dokter HS tengah mengurus surat surat perpanjangan di sini. Untuk kala beliau kala ini praktik di rumah sakit lain," tutur I. DOMINO KIUKIU

Setelah tidak bekerja kembali di RS Grha Kedoya, HS diketahui praktik di sebuah rumah sakit yang tersedia di lokasi Jakarta Utara.

Menurut I, HS kala ini bekerja di Rumah Sakit Family, Jalan Pluit Mas Jembatan Tiga, Pejagalan, Jakarta Utara.

Warta Kota lantas coba menelusuri keberadaan HS ke rumah sakit yang dimaksud. Seorang pegawai inisial R membetulkan bahwa HS bekerja di rumah sakit tersebut. Namun, dokter yang mengenai tengah tidak berada di tempat.

"Dokter HS tengah cuti sampai tanggal 11 Juli. Kemungkinan masuk kembali tanggal 12 Juli," ucap R.

SHARE :
CB Blogger
 
Copyright © 2014 Cinta Berita. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger