Viral    Unik    Olahraga    Politik    Ekonomi    SelebNews    Pasang Iklan    FILM   
Home » » Bocah Nangis Juara Lari 21 KM Tak Dapat Hadiah, Hotman Parisn Sebut Begini

Bocah Nangis Juara Lari 21 KM Tak Dapat Hadiah, Hotman Parisn Sebut Begini

Posted by Cinta Berita on Minggu, 09 Februari 2020


CINTABERITA - Di media sosial viral kisah seorang bocah SD bernama Asmarani Dongku.


Siswa kelas VI SD berasal dari Desa Pandiri, Kecamatan Lage, Kabupaten Poso itu menangis sehabis sadar ia tak mendapat hadiahmeski menjadi juara 1 lomba lari maraton 21 kilometer.

Lomba itu digelar Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Tengah di Kabupaten Poso di dalam rangka syukuran pekerjaan peningkatan jalan Kelurahan Lawanga-Toyado, 25 Januari 2020.

Lomba lari 21 kilometer itu diikuti 40 peserta.

"Saya menangis, lelah dan tidak ada hadiahnya. Nanti di finish baru dibilang tidak ada hadiahnya. Kalau aku sadar tidak ada hadiahnya, aku tidak akan turut Pak," kata Asmarani Dongku dikutip TribunJakarta.com berasal dari Kompas.com, pada Jumat (6/2/2020).

Mengetahui kisah sedih Asmarani Dongku, pengacara kondangHotman Paris memberi salam keras Pemerintahan Kabupaten Poso.

Hotman Paris mempertanyakan cara Pemkab Poso di dalam memperlakukan anak-anak.

"Beginikah caranya memotivasi anak?" tulis Hotman Paris dilansir TribunJakarta.com berasal dari Instagram hotmanparisofficial.

Hotman Paris menjelaskan bila Pemkab Poso tak mau memberi tambahan Asmarani Dongku hadiah maka dirinya yang akan memberikan, namun bersama satu syarat.

Ia berharap Pemkab Poso untuk menjelaskan alasan mereka tak memberi tambahan Asmarani Dongku hadiah meski telah menjuarai lomba lari 21 KM.

"Kalau oknum Pemkab Poso tidak mau memberi tambahan hadiahkepada putri cilik yang benar-benar lugu ini maka Gus Lora Hotman Parissiap memberi tambahan hadiah kepada putri cilik ini

dengan syarat oknum Pemkab Poso wajib menjelaskan kepada publik bahwa benar tidak bersedia memberi tambahan hadiah kepada Juara yang menang di dalam perlombaan tersebut!" tulis Hotman Paris.

Hotman Paris sesudah itu mempertanyakan di mana hati nurani para pejabat di Pemkab Poso.

 "Aduh disuru berlari 21 km? Dimana hati nuranimu??? Kecil besar hadiah enggak masalah," tulis Hotman Paris.

Ia menyuruh ibunda Asmarani Dongku untuk langsung menghubunginya agar hadiah untuk bocah berikut langsung bisa dikirimkan.

Minta Ibu putri cilik ini hubungin Hotman! Hotman akan kirim hadiah

orang yang tau alamat dan nomer hp ortunya agar komen di ig ini!

Banyak followerku mau kasi hadiah! Kita kasi semisal baik utk oknum pejabat," tulis Hotman Paris.

Nama Desa Pandiri, Kecamatan Lage, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah mendadak terkenal. Pasalnya ada seorang bocah yang masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar, yang tinggal di desa itu menjadi viral.

Namanya Asmarani Dongku. Usianya baru 12 tahun.

Gadis lugu itu mendongkol gara-gara usai ikuti lari marathon21 kilometer, ia tak mendapat hadiah duit seperti yang ia dengar sebelum akan ikuti lomba.

Asmarani atau biasa dipanggil Melan, cuma menangis dan kecewa ketika lagi ke rumahnya tak membawa hadiah duit sesen pun berasal dari ajang lari 21 Km yang dihelat oleh Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Provinsi Sulawesi Tengah, Sabtu 25 Januari 2020 lalu.

Hal ini terdengar berasal dari suaranya.

Melan menuturkan, dirinya begitu kecewa usai ikuti ajang lari marathon itu.

Melan mendengar soal lomba lari itu berasal dari tetangganya.

Lari marathon bersama jarak 21 km itu, ujar sang tetangga, buat persiapan bonus di dalam bentuk duit bagi peserta yang pertama masuk di garis finish.

Dengan stimulus 45, gadis berpawakan mungil itu buat persiapan fisiknya.

Ia dambakan ikuti ajang itu. Hari perlombaan tiba. Sabtu (25/01/2020), kurang lebih pukul 03.00 Wita, gadis kecil itu dibangunkan berasal dari tidur lelapnya oleh sang ibu Jumilda Podagi (42).

Dengan mata masih berat, Melan sesudah itu bergegas ke kamar mandi.

Usai berasal dari kamar mandi ia pun buat persiapan diri.

Dengan sepatu butut berlogo Nike yang dibelikan ibunya pas dia kelas empat SD, Melan siap bertarung.

"Mamaku membeli seratus ribu itu sepatuku. Mama membeli pas aku masih kelas empat," kata Melan, Kamis (30/1/2020).

Dengan diantar ibunya, Melan dan kakak kandungnya siap bertempur di ajang lari marathon itu.

Dengan mengendarai sepeda motor, ketiganya bergegas menuju depan jalan rumah Bupati Poso, sebagai start awal ajang lari marathon 21 km itu digelar.

Dinginnya pagi buta itu tak menyurutkan stimulus sang ibu untuk mengantar anaknya ikuti lari marathon.

Suka main lotre dan bingung cari bandar lotre online terpercaya.....? Tak Usah Bingung lagi uda gak jaman ini ada bandar oline terpercaya se -indonesia dan paling aman ... hanya dsini dengan minimal dposit 25.000 kamu bisa bermain sesuka hatimu banyak bonus dan hadiah menarik lainya.



Apalagi Melan yakin bisa menjadi pemenang dan mencapai juara dan juga pulang bersama membawa pulang duit hasil jerih payahnya.

Seperti ketika ia ikuti lari marathon 5 km di Kota Palu.

Saat itu ia mendapat juara 1 dan membawa pulang duit sebesar Rp. 5 juta.

Kemudian, pas ikuti lomba lari 10 km di Makassar ia juga juara 1 dan membawa pulang duit sebesar Rp 10 juta.

Menurut sang ibu, bakat yang dimiliki Melan berasal berasal dari sang kakek, Jeremia Podagi.

"Kakeknya Melan juga pelari jarak jauh dan sebagian kali turut marathon. Pernah ke Surabaya juga turut marathon dulu. Bakat berasal dari kakeknya ini turun mirip sebagian cucunya," kata Jumilda.

Dalam lomba itu, Melan akhirnya masuk finish dan ia yakin masuk finish pertama.

"Iya, aku finish yang pertama," kata Melan.

Namun Melan wajib menelan kekecewaan.

Usai dikalungkan medali, hadiah duit yang dia dengar tak juga diberikan.

Sampai akhirnya ia lagi bersama ibu dan juga kakaknya bersama perasaan kecewa.

Melan lebih-lebih sempat menagis untuk menumpahkan kekesalannya.

"Dia bilang sadar begini tidak turut dia," kata ibunya lewat sambungan telepon selular.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Provinsi Sulawesi Tengah Syaifullah Djafar mengaku kaget bersama adanya pemberitaan soal ini.

Syaifullah akhirnya meluruskan soal lari marathon yang digelar 25 Januari 2020 lantas itu.

Menurut Syaifullah, ada miskomunikasi. Syaifullah menjelaskan aktivitas lari marathon 21 km ini memang cuma untuk fun.

"Jadi begini kita itu di Dinas Bina Marga Ruang memiliki club lari namanya Bima Tarung runners. Kami memiliki formalitas tiap-tiap pekerjaan jalan yang telah selesai itu kita adakan aktivitas bersama menggelar ajang lari marathon," katanya.

Dia menambahkan, aktivitas yang digelar itu semacam tradisi. 


Image and video hosting by TinyPic\

SHARE :
CB Blogger
 
Copyright © 2014 Cinta Berita. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger